Fast downloads for power users: No bundles, no malware, focus on quality
Software essentials for Windows, macOS and Android. TechSpot
Downloads is updated every day with dozens of apps covering everything
from productivity and communication, to security and gaming. Download
safely while discovering alternative software you can try.
Backup and Sync is an app for Mac and PC that
backs up files and photos safely in Google Drive and Google Photos, so
they're no longer trapped on your computer and other devices.
Whether you're gaming on a smartphone, tablet,
notebook, laptop, desktop, or a high performance gaming PC, 3DMark
includes a benchmark designed specifically for your device.
SMPlayer is a free media player for Windows and
Linux with built-in codecs that can play virtually all video and audio
formats. It doesn't need any external codecs. Just install SMPlayer and
you'll be able to play all formats without the hassle to find and
install codec packs.
This Zip file contains all of the Intel Ethernet
network drivers and software for Windows, Linux and FreeBSD for most
Intel Ethernet Adapters as found on the CD that accompanies Intel
Ethernet Adapters.
fre:ac is a free audio converter and CD ripper
with support for various popular formats and encoders. It currently
converts between MP3, MP4/M4A, WMA, Ogg Vorbis, FLAC, AAC, WAV and Bonk
formats.
Windows Firewall Control is a nifty little
application which extends the functionality of the Windows Firewall and
provides quick access to the most frequent options of Windows Firewall.
To update your iPod you will need to download the
latest firmware file (IPSW). With this update your iPod touch becomes
more intelligent and proactive with powerful search and improved Siri
features.
Developed specifically for automatic removal of
viruses, bots, spyware, keyloggers, trojans, scareware and rootkits
without the need to manually edit system files or registry.
The Microsoft Safety Scanner is a free
downloadable security tool that provides on-demand scanning and helps
remove viruses, spyware, and other malicious software. It works with
your existing antivirus software.
mp3DirectCut is a fast and extensive audio editor
and recorder for mp3 files. You can directly cut, copy, paste or change
the volume with no need to decompress your files.
iOS 13 is faster and more responsive with
optimizations across the system that improve app launch, reduce app
download sizes and make Face ID even faster.
Jika Anda adalah salah seorang yang mengikuti perkembangan teknologi, maka Anda tentu selalu up-to-date
terhadap smartphone yang sedang tren di Indonesia saat ini. Di tahun
ini, ada banyak varian smartphone yang cukup booming di pasar gadget Indonesia. Tak hanya dari kalangan ponsel high-end saja, HP yang lagi booming tersebut juga berasal dari kelas mid-end dan low-end.
Nah, kali ini Carisinyal
akan membahas daftar HP yang lagi trend di Indonesia saat ini. HP ini
cukup banyak diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia karena beberapa
alasan, termasuk fitur-fitur menggoda yang ditawarkannya. Yuk, langsung saja cari tahu daftar selengkapnya berikut ini.
1. Samsung Galaxy S20 Ultra
Rilis: Maret 2020
Layar: Dynamic AMOLED 2X 6.9 inches, 1440 x 3200 pixels
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee Cek Harga di Lazada
Seperti
biasa, saat Samsung merilis ponsel flagship terbaru mereka ke pasaran,
hal itu sering menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta gadget.
Nah, di kuartal pertama tahun 2020, mereka kembali mengenalkan suksesor
Galaxy S10 yang sebelumnya banyak menyita perhatian publik.
Ialah Samsung Galaxy S20 Ultra
yang merupakan model paling tinggi di lini Galaxy S20. Ponsel ini
tersedia dalam model LTE dan 5G, sedangkan yang masuk ke pasar Indonesia
adalah yang model LTE. Dengan beragam fitur dan teknologi canggih yang
dibawanya, HP ini dibanderol dengan harga Rp 18 jutaan!
Samsung
membuat produknya ini unggul di berbagai sisi, termasuk tampilan yang
sangat mengesankan, bangunan yang berkualitas tinggi, performa yang
unggul, daya tahan baterai yang dapat diandalkan serta suara yang
menggelegar. Pengaturan kameranya juga merupakan salah satu yang paling
hebat di dunia, sehingga berhasil masuk top 10 performers (per Mei 2020) di situs DxOMark.
Tidak hanya unggul secara perangkat keras, namun Samsung Galaxy S20
Ultra juga memiliki ekosistem perangkat lunak yang sangat baik. Berkat
kerja sama dengan banyak pengembang perangkat lunak top dunia, HP ini
mampu menawarkan banyak keseruan yang berkelas kepada penggunanya.
2. Oppo Find X2 Pro
Rilis: Maret 2020
Layar: AMOLED 6,7 inci, 1440 x 3168 pixels
Chipset: Snapdragon 865 (7 nm+)
GPU: Adreno 650
RAM: 12 GB
Memori Internal: 512 GB
Memori Eksternal: –
Kamera Belakang: 48 MP + 13 MP + 48 MP
Kamera Depan: 32 MP
Baterai: Non-removable Li-Po 4260 mAh
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee Cek Harga di Lazada
Salah satu HP terbaik yang pernah diproduksi oleh Oppo ini juga mendapatkan banyak sambutan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah Oppo Find X2 Pro
dan versi regulernya merupakan dua perangkat 5G yang pertama masuk ke
Tanah Air, sehingga sudah pasti banyak media yang mengangkat hal ini. Oppo Find X2 Pro hadir untuk bersaing dengan ponsel flagship
unggulan dari brand lainnya yang sudah banyak bermunculan sejak kuartal
pertama tahun 2020. Dengan harga jual di angka Rp 17 jutaan, HP ini
menawarkan sejumlah keunggulan kepada penggunanya.
Di luar
statusnya sebagai ponsel 5G, Find X2 Pro ini memiliki desain yang keren
dan berkelas, khususnya untuk versi kulit. Bodinya dibuat tangguh dengan
rating IP68 dan Gorilla Glass 6 di bagian depan. Kedua, tampilannya
juga sangat mengesankan dengan dukungan HDR10+ dan laju penyegaran
120Hz.
Tampilan
HP ini juga memiliki tingkat kecerahan yang sangat tinggi maksimal 800
nits, sehingga dapat diandalkan dengan baik untuk pemakaian di luar
ruangan. Bagian-bagian lain HP ini juga dibuat unggulan, seperti
pengaturan kamera yang hebat di belakang yang juga berhasil masuk top 10 performers (per Mei 2020) di situs DxOMark.
3. Samsung Galaxy Z Flip
Rilis: Februari 2020
Layar: Foldable Dynamic AMOLED 6.7 inches, 1080 x 2636 pixels
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee Cek Harga di Lazada
Bagian yang paling menarik perhatian dari Samsung Galaxy Z Flip
adalah tampilan. Ya, HP ini mengusung layar lipat yang tampak mutakhir
yang belum banyak diadopsi oleh kebanyakan ponsel pintar di tahun 2020.
Meskipun
secara spesifikasi berada di bawah Samsung Galaxy S20 Ultra, namun
harga Samsung Galaxy Z Flip lebih mahal dari ponsel tersebut. Mengapa
bisa demikian?
Ini sudah pasti karena teknologi layarnya. Dengan
berbagai pertimbangan, seperti biaya produksi dan pengembangan yang
lebih mahal, maka tak heran HP ini memiliki harga jual yang cukup
menguras kantong.
Karena
membawa teknologi canggih, Samsung Galaxy Z Flip pastinya menawarkan
gaya dan nilai prestise yang lebih tinggi dibanding kebanyakan smartphone flagship yang ada sejauh ini.
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee Cek Harga di Lazada
Belakangan,
brand Huawei melejit karena sejumlah produknya berhasil menduduki
posisi tertinggi sebagai smartphone dengan kamera terbaik di dunia versi
DxOMark. Di kuartal kedua tahun 2020 mereka meluncurkan lini Huawei P40
sebagai ponsel flagship terbaru mereka.
Salah satu modelnya, Huawei P40 Pro
berhasil menyita perhatian pecinta gadget dunia, termasuk Indonesia
karena kemampuan kameranya yang sangat hebat. Kamera ponsel itu berhasil
mencetak skor yang tinggi dalam uji lab DxOMark dan berhasil menjadi top performer dengan skor 128 untuk kamera utama dan 103 untuk kamera selfie (data per Mei 2020).
Beberapa
hal lain yang diunggulkan dari Huawei P40 Pro adalah desain yang
menarik dengan bodi tahan debu dan air, tampilan beresolusi tinggi
dengan laju penyegaran 90Hz, dan performa yang cepat berkat salah satu
chipset terbaik di pasaran. Sayangnya, absennya Google Play Services
berarti banyak keseruan yang tidak dapat dilakukan dengan HP ini.
5. Xiaomi Mi 10
Rilis: Februari 2020
Layar: Super AMOLED 6.67 inches, 1080 x 2340 pixels
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee
Tidak mau ketinggalan, Xiaomi juga memboyong salah satu perangkat 5G mereka ke Indonesia, yaitu Xiaomi Mi 10.
Dengan harga Rp 9,9 jutaan, sejauh ini Mi 10 disebut-sebut sebagai
ponsel termahal Xiaomi yang dijual di Indonesia. Lalu apa yang membuat
HP ini mendapat perhatian pecinta gadget Tanah Air di luar statusnya
sebagai perangkat 5G?
Pertama
dan seperti biasanya, HP ini memiliki harga jual yang kompetitif.
Dengan sejumlah fitur unggulan, tentu itu adalah penawaran yang menarik.
Dari segi tampilan, Mi 10 5G hadir dengan panel OLED Full HD dengan
laju penyegaran 90Hz, HDR10+ serta tingkat kecerahan yang tinggi.
Performa Mi 10 juga dibuat powerful
dengan Snapdragon 865, chipset Android tercepat saat ini. Kamera, meski
tanpa lensa telefoto adalah bagian yang cukup menonjol dari HP ini.
Dengan kamera utama beresolusi 108 MP, kemampuan keseluruhan kamera Mi
10 5G tergolong hebat, baik untuk memotret maupun merekam.
Xiaomi
Mi 10 5G juga dibekali dengan pengeras suara stereo berkualitas tinggi,
sehingga bersama dengan tampilan mengesankannya mampu menghadirkan
pengalaman audio visual yang baik. Secara keseluruhan, HP ini akan lebih
hebat lagi jika memiliki lensa telefoto serta bodi tahan air dengan
rating IP68.
HP
ini menawarkan desain yang ringkas dan bobot ringan untuk perangkat
dengan layar di atas 6 inci dan baterai 4000 mAh yang daya tahannya
dapat diandalkan. Selain itu, desain HP ini juga cukup menonjol di
kelasnya, bahkan bisa dibilang lebih baik dari beberapa ponsel flagship murah yang ada.
Galaxy
A51 juga hadir dengan tampilan yang cemerlang, cocok bagi mereka yang
hobi bermultimedia. Di samping itu, kinerja kamera belakangnya juga
bagus secara keseluruhan, khususnya untuk pemotretan di siang hari.
7. Realme 6 Pro
Rilis: Maret, 2020
Layar: IPS LCD 6,6 inci, 1080 x 2400 pixels
Chipset: Qualcomm SM7125 Snapdragon 720G (8 nm)
GPU: Adreno 618
RAM: 8 GB
Memori Internal: 128 GB
Memori Eksternal: microSDXC (slot khusus)
Kamera Belakang: 64 MP, 12 MP, 8 MP, 2 MP
Kamera Depan: 16 MP + 8 MP
Baterai: Non-removable Li-Po 4300 mAh
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee Cek Harga di Lazada
Ponsel
kelas menengah Realme ini dibanderol di angka empat jutaaan. Dengan
sejumlah fitur unggulan yang ditawarkannya, HP ini mendapatkan cukup
perhatian karena harganya yang kompetitif.
Misal, Realme 6
Pro memiliki tampilan yang mengesankan dengan laju penyegaran 90Hz.
Sebagai informasi, ada beberapa ponsel di atasnya yang bahkan hanya
menawarkan tampilan 60Hz. Ini jelas sebuah keunggulan bagi Realme 6 Pro.
Pengaturan
kamera HP ini juga tergolong hebat, baik di belakang maupun di depan
untuk selfie. Anda dapat melakukan bidikan zoom dengan kamera
telefotonya. Pun dengan dua kamera depannya (wide+ultrawide), Anda dapat
merasakan swafoto yang mengesankan.
Performa Realme 6 Pro juga
termasuk salah satu unggulan di kelas harganya berkat dukungan chip
Snapdragon 720G yang dikombinasikan dengan RAM 8 GB serta ROM UFS 2.1
seluas 128 GB. Dan masih ada lagi kelebihan-kelebihan lainnya yang tidak
disebutkan di sini.
8. vivo V19
Rilis: Maret 2020
Layar: Super AMOLED 6,44 inci, 1080 x 2400 pixels
Chipset: Snapdragon 675 (11 nm)
GPU: Adreno 612
RAM: 8 GB
Memori Internal: 128/256 GB
Memori Eksternal:microSD, up to 256 GB (uses shared SIM slot)
Kamera Belakang: 48 MP + 8 MP + 2 MP + 2 MP
Kamera Depan: 32 MP
Baterai: Non-removable Li-Po 4500 mAh
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee Cek Harga di Lazada vivo V19
khusus Indonesia ini hadir dalam dua varian memori penyimpanan, yaitu
128 GB dan 256 GB dengan dukungan microSD. Keduanya sama-sama
dibanderol di angka empat jutaan dan menjadi salah satu ponsel kelas
menengah yang banyak dilirik.
Seperti
biasa, kamera merupakan salah satu nilai jual utama dari produk ini.
Ada empat modul kamera di belakang dengan pengaturan yang bagus serta
satu kamera depan punch hole yang dapat diandalkan untuk swafoto.
Secara
keseluruhan, vivo V19 ini membawa parameter yang kompetitif di kelas
harganya. Itu termasuk performa yang solid, tampilan yang cemerlang,
baterai yang tahan lama, serta desain yang tampak muda, modern, dan fresh.
9. Realme C3 (3 kamera)
Rilis: Februari 2020
Layar: IPS LCD 6.5 inches, 720 x 1600 pixels
Chipset: Helio G70 (12 nm)
GPU: Mali-G52 2EEMC2
RAM: 3 GB
Memori Internal: 32 GB
Memori Eksternal: microSD (slot khusus)
Kamera Belakang: 12 MP + 2 MP + 2 MP
Kamera Depan: 5 MP
Baterai: Non-removable Li-Po 5000 mAh
Spesifikasi selengkapnya… Cek Harga di Shopee Cek Harga di Lazada Realme C3 versi tiga kamera ini merupakan salah satu ponsel entry-level yang paling banyak mendapatkan perhatian pecinta gadget Tanah Air. Pasalnya dengan harga yang relatif terjangkau (Rp 1,8 jutaan), HP ini dibekali dengan sejumlah parameter menarik.
Sebagai
contoh, Realme C3 membawa baterai berkapasitas 5000 mAh yang memiliki
daya tahan yang bagus. Hanya saja tidak ada dukungan pengisian cepat
untuknya. Namun itu tetap suatu kelebihan bagi ponsel sekelasnya. Adapun
di bagian performa, HP ini hadir dengan chip gaming entry-level yang menawarkan kemampuan 3D gaming.
Tampilannya
meski HD+ juga tidak begitu mengecewakan karena mendapatkan proteksi
GG3 dan menawarkan tingkat kecerahan maksimum 480 nits. Sementara itu,
bodinya juga telah mendapatkan proteksi tahan percikan. Secara
keseluruhan, HP ini cocok bagi pekerja outdoor yang membutuhkan smartphone murah yang dapat diandalkan.
10. Samsung Galaxy A71
Rilis: Januari 2020
Layar: Super AMOLED Plus 6,7 inci, 1080 x 2400 pixels
Developers should be burning with excitement about
the opportunities ahead in 2018, with products and tools around
technologies such as blockchain, chatbots, serverless functions, and
machine learning becoming mature enough for real-world projects. At the
same time, many developers will be worried about holding up against the
pressure to deliver code and functionality faster without compromising
security or performance. But there is good news on that front as well.
For
developers, 2018 will be defined by this tension between seizing
transformative new opportunities while coping with the pressure to do
more, with higher quality. Below are 10 predictions related to how those
forces will play out in the year ahead.
1. B2B transactions leveraging blockchain go into production
Businesses
have begun to understand the security, reliability, and efficiency to
be gained from blockchain-enabled transactions. Developers will
implement many blockchain use cases across financial services and
manufacturing supply chains in the coming year. Blockchain is a
technology that enables efficient, secure, immutable, trusted
transactions among organizations that might not fully trust each other,
eliminating intermediaries.
Consider a company ordering
products from an offshore manufacturer. These products get shipped via a
shipping company, come through customs, through another shipping
company, and finally to the buyer. Today, the verification and
reconciliation of each step mostly happens through emails and
spreadsheets, with a lot of people and processes involved. Blockchain
eliminates manual processes and reconciliation by irrevocably recording
updates to the blockchain ledger when a minimum number of parties say,
“Yes, this part of the transaction happened.”
Blockchain
cloud services will bring scalability, resiliency, security, and
pre-built integrations with enterprise systems, making it much easier
for developers to focus on the business use case as opposed to
underlying hyperledger fabric implementation.
2. Chatbots routinely have real conversations with customers and employees
People
are getting tired of needing multiple mobile apps to do the same
job—like three different airlines apps with different ways to check in
and get a boarding pass. A better way is to provide that same
functionality but via the most popular app on your phone—messaging.
Messaging has three attractive elements consistent across the medium:
instant, expressive, and conversational – no training needed. Thanks to
advances in artificial intelligence and natural language processing,
people will use Facebook Messenger, Slack, WeChat, WhatsApp, or a voice
assistant like Amazon Alexa or Google Home, to ask questions and get
answers from intelligent bots.
Developers, using new
intelligent bot-building cloud services, can quickly craft bots that
understand the customer’s intent, maintain conversational state, and
respond intelligently while making integration with back-end systems
easy. Imagine taking a picture of a dress you saw in a movie and
messaging the image to your favorite clothing store’s bot, which uses
image recognition and AI to recommend similar dresses. Employees could
also be huge beneficiaries of bots for tasks such as asking how many
vacation days they have left, filing a help desk ticket, or ordering a
replacement laptop, where the system even knows which laptops the
employee is eligible for and can provide status updates on their order.
Given it is much more forgiving to experiment with your own employee
base, developers might first leverage their bot-building chops to build
and test employee-facing bots.
3. The button disappears: AI becomes the app interface
AI
becomes the UI, meaning that the synchronous, request-response model of
using apps and services gradually disappears. Smartphones are still
“low IQ,” because you have to pick them up, launch an application, ask
for something to be done, and eventually get a response. In a new
generation of intelligent apps, the app will initiate interactions via
push notifications. Let’s take this a step further where an app, bot, or
a virtual personal assistant using artificial intelligence will know
what to do when, why, where, and how. And just do it. Two examples:
Expense approvals app watches your pattern of approving expense
reports, starts to auto-approve 99 percent of expense reports and only
brings to your attention the rare report that requires your attention.
Analytics app understands the underlying data, questions asked so
far by the business user, questions asked of the same dataset by other
users in the company, and each day provides a new insight that the
analyst might not have thought of. As organizations gather more data, AI
can help us learn what questions to ask of the data.
Developers need to figure out what data is really
important to their business application, how to watch and learn from
transactions, what business decisions would most benefit from this kind
of proactive AI, and start experimenting. Embedded AI can predict what
you need, deliver info and functionality via the right medium at the
right time, including before you need it, and automate many tasks you do
manually today.
4. Machine learning takes on practical, domain-specific uses
Machine
learning is moving from the realm of obscure data science into
mainstream application development, both because of the ready
availability of pre-built modules in popular platforms, and because it
is so useful when dealing with analysis across large, historical
datasets. With machine learning, the most valuable insight comes with
context — what you’ve done before, what questions you’ve asked, what
other people are doing, what’s normal versus anomalous activity.
But
to be effective, machine learning must be tuned and trained in a
domain-specific environment that includes both the datasets it will
analyze and the questions it will answer. For example, machine learning
applications designed to identify anomalous user behavior for a security
analyst will be very different from machine learning applications
designed to optimize factory robot operations, which may be very
different from those designed to do dependency mapping of a
microservices-based application.
Developers will need to
become more knowledgeable about domain-specific use cases to understand
what data to gather, what kinds of machine learning algorithms to apply,
and what questions to ask. Developers will also need to evaluate
whether domain-specific SaaS or packaged applications are a good fit for
a given project, given the fact that large quantities of training data
are required.
Using machine learning, developers can
build intelligent applications to generate recommendations, predict
outcomes, or make automated decisions.
5. DevOps moves toward NoOps
We
all agree devops is critically important for helping developers build
new applications and features fast, while maintaining high levels of
quality and performance. The problem with devops is developers needing
to spend 60 percent of their time on the ops side of the equation, thus
cutting into the time devoted to development. Developers are having to
integrate various continuous integration and continuous delivery (CICD)
tools, maintain those integrations, and constantly update the CI/CD tool
chain as new technologies are released. Everyone does CI, but not too
many people do CD. Developers will insist on cloud services to help the
pendulum swing back to the dev side in 2018. That will require more
automation for real CICD.
Docker gives you packaging,
portability, and the ability to do agile deployments. You need CD to be a
part of this Docker lifecycle. For example, if you are using
containers, as soon as you commit a code change to Git, the default
artifact built should be a Docker image with the new version of the
code. Further, the image should automatically get pushed into a Docker
registry, and a container deployed from the image into a dev-test
environment. After QA testing and deployment into production, the
orchestration, security, and scaling of containers should be taken care
of for you. Business leaders are putting pressure on developers to
deliver new innovations faster; the devops model must free up more time
for developers to make that possible.
6. Open source as a service accelerates consumption of open source innovation
The
open source model remains one of the best engines of innovation, but
implementing and maintaining that innovation is often too complex. For
example:
You want a streaming data/event management platform, so you turn to
Kafka. As you start leveraging Kafka at scale, you must set up
additional Kafka nodes and load balance large Kafka clusters, update
these clusters as new releases of Kafka come out, and then integrate
this service with the rest of your environment.
You want Kubernetes for container orchestration. Instead of taking
care of upgrades, backups, restores, and patches for your Kubernetes
cluster, the platform should do all of that for you. Kubernetes ships
every six weeks, so the platform should have rolling deployments and
self-healing.
You want Cassandra for NoSQL databases. You should want the backup
(incremental or full on a schedule), patching, clustering, scaling, and
high availability of the Cassandra cluster to be managed by the
platform.
Developers will increasingly look for cloud services to
deliver all of that high-speed innovation from open source while taking
care of operational and management aspects of these technologies.
7. Serverless architectures go big in production
The
appeal of serverless architectures is clear: When there is demand for
my code to be executed based on a certain event, infrastructure is
instantiated, my code is deployed and executed, and I am charged only
for the time my code runs. Let’s say you want to build a travel booking
function to book/cancel flights, hotels, and rental cars. Each of these
actions can be built as a serverless function written in different
languages such as Java, Ruby, JavaScript, and Python. There is no
application server running with my code on it; rather the functions are
instantiated and executed on infrastructure only when needed.
For
developers, stringing serverless functions together to execute complex
transactions creates new challenges: describing how these functions
should be chained together, debugging distributed transactions, and
determining how, on failure of one function in a chain, to create
compensating transactions to cancel inappropriate changes. Look for
cloud services and open source tools, like the FN project,
to flourish by helping developers to easily manage the programming,
composition, debugging, and lifecycle management of serverless
functions, and to deploy and test them on a laptop or on-prem server or
any cloud. The key is going to be picking a serverless platform that
provides maximum portability.
8. The only question about containers becomes “Why not?”
Containers
will become the default for dev/test work and commonplace for
production applications. Expect continued improvements in security,
manageability, orchestration, monitoring, and debugging, driven by open
source innovations and industry standards. Containers provide the
building blocks for many of the trends driving modern development
including microservices architectures, cloud-native apps, serverless
functions, and devops.
Containers won’t make sense
everywhere —for example, when you need a more prescriptive cloud
platform, such as an integration PaaS or a mobile PaaS—but these higher
level cloud services will themselves run on containers, and will be the
exceptions that prove the rule.
In addition, software
licensing models for high-value, commercial, on-premises software will
have to embrace the spread of container adoption. Pricing models for
software will have to support “turn on” and “turn off” licensing as
containers are instantiated, scaled up, and scaled down.
9. Software and systems become self-healing, self-tuning, and self-managing
Developers
and production operations teams are drowning in data from logs,
web/app/database performance monitoring and user experience monitoring,
and configuration. In addition, these various types of data are siloed,
so you must bring many people into a room to debug issues. Then there is
the issue of knowledge transfer: Developers spend a lot of time telling
production ops the ins and outs of their applications, what thresholds
to set, what server topologies to monitor for a transaction, and so on.
By aggregating large amounts of this data into one
repository (across logs, performance metrics, user experience, and
configuration, for example), and applying lots of compute capacity,
machine learning, and purpose-built algorithms, cloud-based systems
management services will ease performance/log/configuration monitoring
significantly. These cloud services will establish baselines for
thresholds by watching transactions (sparing the ops team from having to
manage thresholds), and understand the server topology associated with
transactions automatically. Using anomaly detection against these
baselines, systems management services will automatically be able to
tell developers when things are moving away from normal behavior, and be
able to show the root cause of problems for a specific transaction.
Developers
will need to think about how to leverage this automation when writing
their applications to be able to create self-managing applications on
top of these intelligent management systems in the cloud.
10. Highly automated security and compliance efforts become a new ally of developers
While
developers often think of security and compliance as “someone else’s
job” or “bottlenecks to delivering code,” the advent of comprehensive
security and compliance regimes based on machine learning and delivered
as SaaS will help align these efforts with the fast pace of development.
Specifically, highly automated cyber defense will be deployed both
“upstream” to identify and remediate potential security risks in
development and “downstream” to automatically adapt a company’s security
profile to ongoing application and environment changes (identifying
attacks, remediating vulnerabilities, and assessing continuous
compliance) in production.
Such protections will be
required in some cases, with continuous compliance assessment a hallmark
of GDPR and similar mandates. Developers, security professionals, and
end-users will all benefit from a more rigorous, automated approach to
security throughout the devops lifecycle. Siddhartha Agarwal is vice president, product management and strategy, for Oracle Cloud Platform. —
New
Tech Forum provides a venue to explore and discuss emerging enterprise
technology in unprecedented depth and breadth. The selection is
subjective, based on our pick of the technologies we believe to be
important and of greatest interest to InfoWorld readers. InfoWorld does
not accept marketing collateral for publication and reserves the right
to edit all contributed content. Send all inquiries to newtechforum@infoworld.com.
Pengunjung melihat kecanggihan dan fitur interior dari
Mercedes-Benz Consept IAA yang dipamerkan dalam Frankfurt Motor Show
(IAA) 2015 di Frankfurt, Jerman, 15 September 2015. Mobil tersebut
memiliki interior yang pintar dengan bangku empat penumpang yang
terpisah. (AP Photo) TEMPO.CO, Jakarta - Kecerdasan buatan menjadi tren teknologi
sepanjang 2017. Tahun depan, teknologi ini diprediksi akan sangat
diandalkan dalam berbagai sektor, mengingat kampanye Internet of Things
juga akan gencar dilakukan.
Kecerdasan buatan alias artificial
intelligence memungkinkan manusia melakukan pekerjaan lebih efisien.
Perusahaan teknologi global pun berlomba-lomba menciptakan algoritma
teknologi ini. Sebut saja, Google, Microsoft, Facebook, Apple, dan
Amazon.
Selain
kecerdasan buatan, tentunya ada teknologi lain yang akan bersinar tahun
depan. Berikut adalah 10 tren teknologi kecerdasan buatan yang
diprediksi akan menjadi tren sepanjang 2018:
Ilustrasi kecerdasan buatan. Clearbridge Mobile Gartner,
firma riset global, menyebut 59 persen organisasi sedang mengumpulkan
informasi untuk membangun kecerdasan buatan mereka sendiri. Harapannya,
teknologi ini bisa meningkatkan pengambilan keputusan, pengalaman
pelanggan, dan menemukan model bisnis lain. Intinya: memajukan sebuah
badan. Gartner memprediksi akan lebih banyak mesin pintar, robot,
kendaan mandiri, dan smart advisors. 2. Aplikasi Pintar dan Analisis Intelligent Apps. delaware.pro Hal
ini masih berkaitan dengan kecerdasan buatan. Setiap perangkat pintar,
baik itu smartphone, laptop, maupun wearable device, diprediksi akan
disematkan aplikasi pintar yang menggunakan chipset artificial
intelligence. Aplikasi pintar ini mungkin akan menjadi bagian dari hidup
kita. Keberadaan sederet aplikasi pintar berpotensi mengubah kultur
kantor dan pekerjaan sehari-hari. 3. Perangkat Pintar Drone untuk layanan taksi terbang terlihat di Dubai, Uni Emirat Arab, Senin 25 September 2017. Kredit: Reuters Speaker pintar, drone, mobil swakemudi dan smart television merupakan contoh dari perangkat pintar (intelligence things). Seperti aplikasi pintar, teknologi ini memanfaatkan kecerdasan buatan dan mesin pembelajaran (machine learning)
untuk pengoperasiannya. Dan pada 2018, perangkat pintar tampaknya akan
semakin populer. Bahkan, banyak analis teknologi meramalkan kelahiran
perangkat yang bisa beroperasi tanpa bantuan manusia. 4. Paduan Komputasi Cloud-Edge 18.1_itempo_cloud
Gartner
memprediksi pada 2020 akan ada 26 miliar perangkat teknologi yang akan
terhubung melalui jaringan Internet. Namun, di satu sisi, komputasi awan
(cloud) sudah tak mampu lagi mengatasi beban pusat data, khususnya soal
kecepatan, keamanan, kapasitas, jaringan, dan manajemen data. Karena
itu, dibutuhkan pengembangan baru, yakni edge computing.
Teknologi
ini merupakan gabungan dari cloud dan sistem pengiriman (edge). Paduan
ini akan memberikan model pengiriman data lebih efisien dan
menjadikannya lebih aman. 5. Admin Virtual Conversational System. converge.xyz
Pernahkah
Anda bingung saat menemui masalah pada ponsel tapi layanan call center
24 jam tidak ada yang mengangkat? Teknologi ini dibangun untuk
memecahkan masalah tersebut. Teknologi tentunya berbasis kecerdasan
buatan, yang berarti akan memangkas biaya dan jauh lebih efisien. Dan,
mungkin saja, ke depannya "admin virtual" ini bukan sekadar teks, tapi
berbentuk avatar yang bisa diajak berbicara langsung. 6. Pengambil Keputusan Bisnis
Dengan
majunya kecerdasan buatan ditambah sistem jaringan yang luas, banyak
perusahaan yang memanfaatkannya untuk mengambil keputusan binis (event-driven). Teknologi kecerdasan buatan kerap digunakan untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih akurat. 7. Blockchain Blockchain. circleup.com
Anda
bisa membayangkan blockchain sebagai buku besar yang ditempatkan di
sebuah ruang terbuka dan bisa dibuka oleh siapa saja. Sepanjang 2017,
blockchain biasanya digunakan untuk mencatat transaksi di dalam jaringan
bitcoin. Tahun depan, blokchain diprediksi akan mencakup database,
keamanan, analisis, manajemen moneter, dan identitas. Namun, lantaran
legalitasnya masih dipertanyakan, bisa saja teknologi ini belum dipakai
di banyak negara. 8. Keamanan Berbasis Kecerdasan Buatan
Pengembangan
teknologi kecerdasan buatan harus diimbangi dengan sistem keamanan
cerdas pula. Kalau tidak, nama saja bunuh diri. Teknologi continous adaptive risk and trust assasment
(CARTA) bisa jadi salah satu jalan. Tingkat keamanan kecerdasan buatan
ini bahkan bisa memantau dan menganalisis keamanan dalam waktu
sepersekian detik sebelum serangan terjadi. 9. Digital Twins Digital Twin. beyondplm.com
Kecerdasan
buatan juga bisa lahir secara kembar. Hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah operasional digital yang memuat miliaran lalu lintas data
dalam tiap detiknya. 10. Gabungan Virtual Reality dan Augmented Reality Seorang
pria mencoba Virtual Reality (VR) saat menghadiri kompetisi Festival
Film Venice yang ke-74 di Venice, Italia, 29 Agustus 2017. REUTERS
Kedua
hal ini sudah populer sejak awal 2017. Contoh augmented reality
(realitas tertambah) yang paling umum ialah game Pokemon Go dan live
streaming Snapchat. Sedangkan virtual reality alias realitas maya ialah
perangkat Oculus Rift besutan Facebook dan Hololens dari Microsoft.
Namun, gabungan keduanya diprediksi akan menjadi teknologi baru yang
akan booming pada 2018.
Simak artikel menarik tentang kecerdasan buatan dan tren teknologi 2018 lainnya hanya di kanal Tekno Tempo.co.
Kustin Ayuwuragil , CNN Indonesia | Kamis, 21/12/2017 23:23 WIB
Bagikan :
Facebook merilis fitur untuk memfilter pesan yang dikirim melalui Messenger. (dok. REUTERS/Phil Noble)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan dua fitur baru untuk mengantisipasi pelecehan yang kerap digunakan pada layanan pesan instannya, Messenger. Bentuknya, sistem pengenalan kontak dan penolakan panggilan.
Fitur ini dibuat lantaran banyaknya laporan mengenai pelecehan dan perundungan atau bullying pada wanita dan jurnalis melalui Messenger.
"Hari ini, kami mengumumkan perangkat baru untuk mencegah pelecehan di Facebook dan Messenger sebagai bagian dari usaha berkelanjutan kami untuk menciptakan komunitas yang aman,” tulis Facebook dalam keterangan tertulis.
Pada fitur pertama, Facebook mengklaim mampu mengenali dan membantu mencegah pengguna Messenger untuk memasukkan kontak yang tidak mereka inginkan. Misalnya, permintaan pertemanan dan pesan dari orang yang telah diblokir.
"Kami telah mendengar cerita dari banyak orang yang memblokir seseorang untuk kemudian bertemu lagi karena orang tersebut menggunakan akun yang berbeda. Untuk membantu mencegah ini terjadi, kami mengembangkan lebih jauh fitur yang sudah ada untuk mencegah akun palsu dan tidak otentik di Facebook," terang Facebook.
Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini sebenarnya telah memiliki fitur otomatis untuk mengidentifikasi akun palsu setiap harinya. Namun, perusahaan ini mengakui bahwa akun baru yang dibuat seseorang seringkali tak terlacak menggunakan fitur tersebut.
Karenanya, perusahaan menggunakan berbagai metode, termasuk, penggunaan alamat IP, untuk membantu mengenali jenis akun secara lebih proaktif, di samping untuk mencegah pemiliknya mengirimkan pesan atau permintaan pertemanan kepada orang yang telah memblokir akun aslinya.
"Orang yang memblokir akun aslinya tersebut memegang kendali, dan harus menghubungi akun baru agar mereka dapat berinteraksi secara normal," lanjut Facebook.
Fitur kedua, lanjut Facebook, adalah opsi untuk menolak sebuah percakapan Messenger dan secara otomatis akan menghilangkannya dari kotak masuk pengguna, tanpa perlu memblokir pengirim. Dengan begitu, pengguna bisa mengabaikan pesan yang melecehkannya tanpa diketahui siapa pun, baik itu dalam grup atau perorangan.
"Tindakan ini akan menonaktifkan notifikasi dan memindahkan percakapan dari kotak masuk ke folder pesan terfilter Anda. Anda dapat membaca pesan dalam percakapan tanpa pengirim melihat apakah mereka telah membacanya," papar Facebook.
Facebook mengklaim fitur ini sekarang tersedia untuk percakapan perorangan dengan pengguna lain dan akan segera tersedia secara luas untuk pesan grup. (evn/arh)